POLEWALI MANDAR – Di bawah terik matahari sore yang mulai meredup di kawasan Alun-alun Polewali dan Pasar Pekkabata, aroma Kue Pelita dan manisnya Es Buah menyeruak di antara kerumunan warga yang sedang "ngabuburit". Di balik deretan meja-meja jualan itu, ada wajah-wajah pejuang ekonomi yang sedang bertaruh nasib di bulan Ramadan ini.
Namun, Selasa sore (3/3/2026) ini, ada pemandangan yang sedikit berbeda. Bukan soal berapa banyak untung yang mereka raup, melainkan tentang apa yang tersisih di sudut meja kayu mereka.
Bungkus yang Tak Bertuan
Sebut saja Ibu Aminah (nama samaran), seorang penjual gorengan dan kue basah yang sudah puluhan tahun berjualan di trotoar kota. Di saat pembeli datang silih berganti, tangannya dengan cekatan memasukkan beberapa potong kue ke dalam kantong plastik terpisah. Kantong itu tidak diletakkan di depan pembeli, melainkan disimpan rapi di sebuah kotak kardus di bawah meja.
"Ini bukan pesanan orang," bisiknya saat kami menghampiri. "Ini untuk anak-anak di Galung Tulu. Nanti ada anak muda yang lewat ambil, katanya mau dibawa ke posko malam ini."
Ibu Aminah bukan orang kaya. Ia sendiri masih harus berhitung dengan kenaikan harga minyak goreng dan tepung. Namun baginya, Ramadan bukan soal matematika untung rugi. "Dagangan saya mungkin tidak seberapa nilainya, tapi setidaknya mereka di sana bisa berbuka dengan makanan yang segar, bukan cuma mie instan setiap hari," tambahnya sambil tersenyum tulus.
Solidaritas Akar Rumput
Fenomena "Pahlawan Takjil" ini ternyata menjamur secara organik di berbagai titik pasar Ramadan di Polman. Tanpa koordinasi formal, tanpa spanduk besar, para pedagang kecil ini menunjukkan kelasnya dalam hal kemanusiaan.
Ada penjual Es Buah yang menyisihkan 10 gelas dagangannya, ada penjual nasi kuning yang membungkus porsi ekstra untuk sahur para relawan, hingga pedagang sayur yang mendonasikan sisa dagangannya yang masih segar ke dapur umum.
Mereka adalah orang-orang yang paling tahu rasanya berjuang untuk makan, maka mereka pula yang paling pertama mengerti pedihnya kehilangan tempat tinggal.
Wajah Asli Mandar
Inilah wajah asli Polewali Mandar yang sesungguhnya. Di tengah gempuran berita tentang angka kerugian material dan kerusakan bangunan di Galung Tulu, solidaritas akar rumput ini menjadi pengingat bahwa kekayaan daerah ini bukan pada infrastrukturnya, melainkan pada hati rakyatnya.
Di balik meja jualan yang sederhana, tersimpan kemuliaan yang luar biasa. Mereka mungkin tidak masuk dalam daftar donatur besar di kertas rilis pemerintah, tapi doa-doa mereka mengalir bersama tiap butir takjil yang dinikmati para pengungsi di tengah duka.
Selasa, 3 Maret 2026 Oleh: Tim Redaksi polman.id